Sabtu, 29 September 2012

PAK Dalam Konteks Masyarakat Indonesia yang Majemuk




PAK DALAM KONTEKS MASYARAKAT INDONESIA YANG MAJEMUK

Abstrak
Pendidikan Kristiani adalah pendidikan agama yang memiliki visi syalom, pengajaran yang membebaskan manusia. Antone dan Kadarmanto menjelaskan sebagaimana pendidikan yang membebaskan tersebut dapat dipahami dan diejahwantahkan dengan baik dan benar sesuai dengan pelayanan Yesus dan konteks tradisi Yahudi saat itu. Hal-hal inilah yang menjadi poros dalam tulisan kedua tokoh di atas. Di mana kemajemukan dalam kehidupan masyarakat pada saat itu kembali dianalisa guna pendidikan masa kini. Pendidikan yang membebaskan mengajarkan kontekstualisasi bersumber pada dasar teologis, sosiologis, psikologis dari masyarakat itu sendiri.
Pembahasan
Dalam bab satu buku Pendidikan Kristiani Kontekstual, Hope Antone menjelaskan objek pembahasan pendidikan di benua Asia. Di mana benua Asia memiliki jumlah penduduk yang terpadat dan beragam baik segi budaya, bahasa, suku bangsa bahkan agama. Menurut Antone keberagaman tersebut merupakan paradoks, satu sisi menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat di Asia dan di sisi lain menjadi masalah atau konflik. Permasalahan tersebut dikarenakan keberagaman akan agama dan budaya yang telah menjadi realitas utama dalam kehidupan masyarakat. Hemat Antone bahwa kemajemukan agama dan budaya merupakan terbentuknya ‘Dunia Ketiga.’ Di mana di benua Asia terdapat lapisan dan aliran agama yang beragam dan saling berkait. Salah satu penyebab umum keberagaman tersebut adalah pernikahan antar agama dan perpindahan agama karena pergumulannya akan agama yang dimakna. Selanjutnya adalah keberagaman akan fakta keagamaan di Asia yang multiskriptural (banyak kitab suci). Masalah-masalah berkait yang bersifat umum diarahkan pada realitas lain dari konteks Asia seperti masalah kemiskinan, perjuangan dan penderitaan. Di sini Antone setuju dengan pandangan Aloysius Pieris yang mengatakan bahwa masalah kemiskinan sebagai sesuatu yang muncul dan pendorong ke arah Dunia Ketiga pada negara-negara di Asia.
Kemajemukan di atas menjadi persoalan terkait dengan masalah ketidakadilan sosial, politik dan ekonomi yang menjadi pemicu konflik agama maupun suku. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa agama di benua Asia telah mencakup segala sesuatu dari akar persoalan. Agama dilihat sebagai alasan untuk mendirikan negara baru yang disebut Dunia Ketiga. Padahal aspek persoalan tersebut lebih bersifat ketidaktahuan akan agama-agama lain, sikap intoleran dan kecurigaan dengan agama lain, serta bertumbuh sikap fanatisme dan fundamentalisme yang muncul dibeberapa kominutas.
Dengan demikian dapat dilihat bahwa permasalahan di benua Asia di atas berkaitan dengan keinginan masyarakat Asia yang mendambakan hidup yang damai, aman, berlimpah dan bermanfaat. Agama yang memiliki visi akan kedamaiaan, keamanan, kelimpahan dan martabat tersebut menjadi jalan keluar akan permasalahan hidupnya. Maka agama dipelihara dalam setiap ajaran dan tradisi pada setiap komunitas umat.
Hal yang sama dapat dilihat pada masyarakat Kristen Asia. Ajaran agama dalam visi di atas telah berakar pada inti ajaran dan gaya hidup Yesus. Sementara itu di tengah kemajemukan yang di benua Asia masyarakat Kristen Asia menyadari bahwa hidup yang sesuai visi Yesus menjadi pedoman hidup yang menuntut mereka untuk mengenali apa yang Allah perlihatkan secara khusus sebagaimana berhubungan dengan masyarakat Asia lainnya.
Dalam hubungan di atas tugas dan tanggungjawab masyarakat Kristen yakni mengajarkan masyarakat lain akan kebenaran yang diajarkan Yesus. Di sini Antone kembali membandingkan penginjilan masa lalu dan kini. Antone mengatakan bahwa sebenarnya penginjilan tersebut telah ikut ambil bagian akan kesalahpahaman dan sikap permusuhan di antara masyarakat Asia yang memiliki kemajemukan tradisi agama. Daripada itu Antone mengusulkan sebagaimana masyarakat Kristen Asia untuk memperhatian teladan Yesus yang bersikap sesuai dengan kasih Allah. Misalnya memelihara sikap pemahaman terhadap diri sendiri maupun pemahaman akan yang lain, sikap menghormati diri sendiri dan orang lain, keramahtamahan, serta menanamkan kemitraan terhadap komunitas lain. Intinya Antone mengatakan bagaimana masyarakat yang dapat menghargai setiap perbedaan dan persamaan yang ada, serta dapat belajar untuk hidup dalam damai dan harmonis sebagai kesatuan ciptaan memiliki kemajemukan. Inilah keunikan manusia.
Selanjutnya Antone mengatakan bahwa konteks kemajemukan di atas kemudian membentuk teori pendidikan di benua Asia. Teori pendidikan yang telah menjadi suatu bingkai penuntun akan penyelenggaraan pendidikan telah memetakan pendidikan yang dilaksanakan, menggambarkan tujuan, menjelaskan dasar-dasar pendidikan, serta menganjurkan bentuk praksis yang sesuai dengan persoalan masyarakat yang dihadapi. Di sini Antone menekankan tugas dan tanggungjawab negara, para penyusun teori serta praktisi pendidikan agar memperhatikan arah dari teori pendidikan agama serta bagaimana pendidikan tersebut menjadi jalan keluar akan masalah dan kebutuhan masyarakat yang berhubungan dengan kemajemukan agam dan budaya khususnya di benua Asia.
Di benua Asia telah berkembang asumsi bahwa teori pendidikan yang kontekstual yang sesuai dengan konteks partikular yakni bersifat dinamis dan tidak statis, serta pendidikan yang dapat merespon dengan segera dan tepat. Pendidikan yang dinamis artinya teori yang dapat diubah, dimodifikasi, dan mutakhir sesuai masanya. Dengan kata lain teori pendidikan kontekstual berarti siap mengakui dengan rendah hati akan keterbatasan upaya yang telah ada, baik itu persepsi, konsepsi, artikulasi, dan analisis yang dibentuk oleh kemampuan fisik dan psikologis manusia sesuai dengan konteksnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perubahan dalam teori pendidikan harus bersifat kontekstual. Pendidikan yang berkembang harus dapat merespon kebutuhan yang dari konteks tertentu. Di sini letak dari keunggulan teori pendidikan yang bergantung pada bentuk relevansi teori dan kelayakan akan konteks tertentu. Intinya tidak ada teori yang dapat dikatakan statis yang mengakibatkan konflik atau ketidakpuasan akan suatu pendidikan. Seperti yang dikatakan John Dewey dalam pendidikan yang paradoks di mana pendidikan yang sehat harus dipengaruhi oleh konflik dan kebangkitan gerakan sosial, di sisi lain pendidikan bukan merupakan sarang konflik. Dengan demikian pendidikan harus dapat menganalisa setiap pekerjaan serta perkembangan pendidikan yang cerdas yakni memastikan penyebab konflik, menganalisa, kemudian menyusun rencana operasional yang tepat. Di sini Antone mengabungkan pendidikan yang bersifat historis dari pendidikan kekinian yang disebut Christian Education dan Religious Education.
Lanjut Antone bahwa akar pendidikan Kristiani berasal dari kebudayaan Ibrani atau Yahudi. Di mana kebudayaan manusia pada saat melihat pendidikan untuk mempertahankan hidup, baik di dalam keluarga maupun di masyarakat lebih luas. Pendidikan di sini mencakup pelatihan dasar kemampuan untuk bertahan hidup, penanaman nilai-nilai komunitas, dan pewarisan nilai-nilai budaya. Seperti dalam peride utama Alkitab yakni periode sebelum pembuangan pre-exilic, periode sesudah pembuangan post-exilic dari masa Perjanjian Lama dan periode Perjanjian Baru. Selanjutnya pendidikan Kristiani juga dapat dilihat dari cara Yesus dan cara murid-murid. Akan tetapi cara dari keduanya dibedakan karena ada pergeseran nyata dalam isi dan perilaku pendidikan. Di mana Yesus berpusat pada Kerajaan Allah dalam masyarakat-Nya sendiri. Misalnya Yesus mengajar dan khotbah, menyembuhkan orang sakit, mengusiran setan sebagai pelayanan kebutuhan manusia.
Hal ini berbeda pada periode Patriastik maupun yang terjadi pada abad pertengahan. Pelembagaan agama Kristen sebagai agama Negara menimbulkan masalah baru pendidikan Kristiani. Seperti baptisan masal yang menimbulkan masalah tersendiri karena tidak melalui tahap pendidikan yang sesuai denga ritusnya.
Dalam perkembangannya ungkapan pendidikan agama terdapat beberapa istilah yang digunakan. Mary Boys menggunakan pendidikan Kristiani pada masa pencerahan. Jonathan Edwards dari kaum evangelikal dan revivalisme pada tahun 1800an maupun Karl Barth dan Rudolf Bultmann menekankan pertobatan perasaan dan pengalaman akan keberadaan Kristus. Selain itu dari Gilbert Albert Coe, Walter Rauschenbach dan John Dewey menyebutnya dengan pendidikan agama. Hal ini dipengaruhi konsep teologi liberal dan pendidikan progresif. Penekanan diarahkan pada pengalaman manusia, pertumbuhan iman dan rekonstruksi tatanan sosial. Intinya harapan yang metafisik tidak dapat diterima. Selain itu bentuk lainnya pendidikan Katolik yang disebut juga katekese yang menekankan kepedulian iman kepada masyarakat. Selanjutnya bentuk lainnya yakni pendidikan agama ekumenis yang mengupayakan kesatuan gereja. Bentuk terakhir adalah pendidikan agama multikultural. Di sini gereja sampai pemahaman bahwa gereja dengan budaya minoritas mengakui identitasnya sebagai kaum minoritas di tengah kaum mayoritas. Melalui pendidikan multikultural ini, diharapkan gereja mampu membuka diri.
Dengan demikian jelas dapat dipahami bahwa perbedaan antara pendidikan Kristiani dan Pendidikan Agama yakni pendidikan Kristiani menekankan untuk mempromosikan kembali teologi neo-ortodoks yang merujuk pada Alkitab sebagai landasan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan waktu. Intinya pendidikan Kristiani mengedepankan nilai-nilai Kristiani dalam pelaksanaan pendidikan. Seperti pandangan Mary Elizabeth Moore yang melihat kedua penamaan di atas sama yakni menekankan kebutuhan perubahan yang signifikan serta kebutuhan yang berkesinambungan dan penentuan warisan. Gabriel Moran berpendapat bahwa pendidikan tersebut agama atau Kristiani adalah sesuatu yang harus dipelajari masyarakat Kristen guna mengetahui cara memelihara hubungan yang baik antara orang-orang yang berbeda kepercayaan.
Dalam penggunaan nama pendidikan Agama guna melihat permasalah dalam konteks itu sendiri yakni adanya pluraitas agama. Gabriel Moran, Norman H. Thompson, dan John Westerhoff yang mengusulkan bahwa pendidikan agama harus menghadapi persoalan objektivitas, muatan, metodologi, dan konteks. Salah satu solusi untuk permasalahan tersebut adalah WCC dan CCA melakukan program dialog antar iman dan antar agama. Hal ini sesuai dengan permasalahan kemajemukan yakni pluralisme agama di Asia.
Dengan demikian Antone mengusulkan pendekatan Teologis dan Edukatif terhadap kemajemukan yakni membuat semacam tipologi guna membedakan sikap dari agama terhadap kemajemukan tersebut. Antara lain ekslusivisme, inklusivisme dan pluralisme. Dalam analisa John Hick mengatakan bahwa ekslusivisme berarti menjadikan arogansi agama; Inklusivisme berarti memberi ruang kepada agama lain akan keberagaman; dan pluralisme berarti mengadakan kesetaraan dan keterbukaan pada setiap agama.
Selanjutnya Antone kembali menjelaskan hubungan Alkitab dengan pluralisme. Di mana pengalaman dan pelayanan Yesus dan lingkungan masyarakat Yahudi menjadi poros dalam bagian ini. Antone mengutip pandangan Niebuhr bahwa ada kecenderungan orang Kristen untuk mengklaim kebenaran yang mutlak dari penafsiran Alkitab yang normatif. Niebuhr mengatakan hal ini sebagai suatu kejahatan dalam hidup. Selain itu pengutipan ayat Alkitab yang berlebih telah mengabaikan rangkaian utuh dari narasi Alkitab.
Oleh karena itu, Antone mengusulkan cara memahami Alkitab tentang pluralisme yakni belajar dari sikap Yesus dalam berhubungan dengan orang lain khususnya menghadirkan syalom. Seperti dalam Lukas 8:21 Yesus mengatakan ‘Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku.’ Di sini identitas tidak dibatas pada suatu komunitas tapi kepada semua orang yang percaya, tanpa membedakan laki-laki dan perempuan, suku dan kondisi ekonomi.
Refleksi
Menurut hemat penulis, tulisan Antone dan Kadarmanto yang mengambil objek pembahasan pada konteks Asia khusus Indonesia yang memiliki kemajemukan. Hal ini mengajarkan bagaimana memahami pendidikan agama dan Kristiani itu secara mendasar. Dengan kata lain permasalah penginjilan dan pelaksanaan pendidikan tidak serta merta pada satu aspek tapi muli-aspek. Dengan demikian pendidikan agama dan Kristiani seharusnya dikembalikan pada pemahaman akan suatu kebenaran Alkitab yang bertanggungjawab dan menghargai pemahaman, gagasan yang lain.
Sementara itu pendidikan agama dan pendidikan Kristiani adalah sesuatu yang harus dilaksanakan secara bersama-sama. Di mana pendidikan agama yang melihat konteks kemajemukan dalam masyarakat dan dapat menyelesaikan isu-isu kemanusiaan. Di sisi pendidikan Kristiani juga dapat mengembangkan proses pertumbuhan suatu komunitas iman dalam kemajemukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar