Sabtu, 29 September 2012

PAK Dalam Konteks Masyarakat Indonesia yang Majemuk




PAK DALAM KONTEKS MASYARAKAT INDONESIA YANG MAJEMUK

Abstrak
Pendidikan Kristiani adalah pendidikan agama yang memiliki visi syalom, pengajaran yang membebaskan manusia. Antone dan Kadarmanto menjelaskan sebagaimana pendidikan yang membebaskan tersebut dapat dipahami dan diejahwantahkan dengan baik dan benar sesuai dengan pelayanan Yesus dan konteks tradisi Yahudi saat itu. Hal-hal inilah yang menjadi poros dalam tulisan kedua tokoh di atas. Di mana kemajemukan dalam kehidupan masyarakat pada saat itu kembali dianalisa guna pendidikan masa kini. Pendidikan yang membebaskan mengajarkan kontekstualisasi bersumber pada dasar teologis, sosiologis, psikologis dari masyarakat itu sendiri.
Pembahasan
Dalam bab satu buku Pendidikan Kristiani Kontekstual, Hope Antone menjelaskan objek pembahasan pendidikan di benua Asia. Di mana benua Asia memiliki jumlah penduduk yang terpadat dan beragam baik segi budaya, bahasa, suku bangsa bahkan agama. Menurut Antone keberagaman tersebut merupakan paradoks, satu sisi menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat di Asia dan di sisi lain menjadi masalah atau konflik. Permasalahan tersebut dikarenakan keberagaman akan agama dan budaya yang telah menjadi realitas utama dalam kehidupan masyarakat. Hemat Antone bahwa kemajemukan agama dan budaya merupakan terbentuknya ‘Dunia Ketiga.’ Di mana di benua Asia terdapat lapisan dan aliran agama yang beragam dan saling berkait. Salah satu penyebab umum keberagaman tersebut adalah pernikahan antar agama dan perpindahan agama karena pergumulannya akan agama yang dimakna. Selanjutnya adalah keberagaman akan fakta keagamaan di Asia yang multiskriptural (banyak kitab suci). Masalah-masalah berkait yang bersifat umum diarahkan pada realitas lain dari konteks Asia seperti masalah kemiskinan, perjuangan dan penderitaan. Di sini Antone setuju dengan pandangan Aloysius Pieris yang mengatakan bahwa masalah kemiskinan sebagai sesuatu yang muncul dan pendorong ke arah Dunia Ketiga pada negara-negara di Asia.
Kemajemukan di atas menjadi persoalan terkait dengan masalah ketidakadilan sosial, politik dan ekonomi yang menjadi pemicu konflik agama maupun suku. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa agama di benua Asia telah mencakup segala sesuatu dari akar persoalan. Agama dilihat sebagai alasan untuk mendirikan negara baru yang disebut Dunia Ketiga. Padahal aspek persoalan tersebut lebih bersifat ketidaktahuan akan agama-agama lain, sikap intoleran dan kecurigaan dengan agama lain, serta bertumbuh sikap fanatisme dan fundamentalisme yang muncul dibeberapa kominutas.
Dengan demikian dapat dilihat bahwa permasalahan di benua Asia di atas berkaitan dengan keinginan masyarakat Asia yang mendambakan hidup yang damai, aman, berlimpah dan bermanfaat. Agama yang memiliki visi akan kedamaiaan, keamanan, kelimpahan dan martabat tersebut menjadi jalan keluar akan permasalahan hidupnya. Maka agama dipelihara dalam setiap ajaran dan tradisi pada setiap komunitas umat.
Hal yang sama dapat dilihat pada masyarakat Kristen Asia. Ajaran agama dalam visi di atas telah berakar pada inti ajaran dan gaya hidup Yesus. Sementara itu di tengah kemajemukan yang di benua Asia masyarakat Kristen Asia menyadari bahwa hidup yang sesuai visi Yesus menjadi pedoman hidup yang menuntut mereka untuk mengenali apa yang Allah perlihatkan secara khusus sebagaimana berhubungan dengan masyarakat Asia lainnya.
Dalam hubungan di atas tugas dan tanggungjawab masyarakat Kristen yakni mengajarkan masyarakat lain akan kebenaran yang diajarkan Yesus. Di sini Antone kembali membandingkan penginjilan masa lalu dan kini. Antone mengatakan bahwa sebenarnya penginjilan tersebut telah ikut ambil bagian akan kesalahpahaman dan sikap permusuhan di antara masyarakat Asia yang memiliki kemajemukan tradisi agama. Daripada itu Antone mengusulkan sebagaimana masyarakat Kristen Asia untuk memperhatian teladan Yesus yang bersikap sesuai dengan kasih Allah. Misalnya memelihara sikap pemahaman terhadap diri sendiri maupun pemahaman akan yang lain, sikap menghormati diri sendiri dan orang lain, keramahtamahan, serta menanamkan kemitraan terhadap komunitas lain. Intinya Antone mengatakan bagaimana masyarakat yang dapat menghargai setiap perbedaan dan persamaan yang ada, serta dapat belajar untuk hidup dalam damai dan harmonis sebagai kesatuan ciptaan memiliki kemajemukan. Inilah keunikan manusia.
Selanjutnya Antone mengatakan bahwa konteks kemajemukan di atas kemudian membentuk teori pendidikan di benua Asia. Teori pendidikan yang telah menjadi suatu bingkai penuntun akan penyelenggaraan pendidikan telah memetakan pendidikan yang dilaksanakan, menggambarkan tujuan, menjelaskan dasar-dasar pendidikan, serta menganjurkan bentuk praksis yang sesuai dengan persoalan masyarakat yang dihadapi. Di sini Antone menekankan tugas dan tanggungjawab negara, para penyusun teori serta praktisi pendidikan agar memperhatikan arah dari teori pendidikan agama serta bagaimana pendidikan tersebut menjadi jalan keluar akan masalah dan kebutuhan masyarakat yang berhubungan dengan kemajemukan agam dan budaya khususnya di benua Asia.
Di benua Asia telah berkembang asumsi bahwa teori pendidikan yang kontekstual yang sesuai dengan konteks partikular yakni bersifat dinamis dan tidak statis, serta pendidikan yang dapat merespon dengan segera dan tepat. Pendidikan yang dinamis artinya teori yang dapat diubah, dimodifikasi, dan mutakhir sesuai masanya. Dengan kata lain teori pendidikan kontekstual berarti siap mengakui dengan rendah hati akan keterbatasan upaya yang telah ada, baik itu persepsi, konsepsi, artikulasi, dan analisis yang dibentuk oleh kemampuan fisik dan psikologis manusia sesuai dengan konteksnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perubahan dalam teori pendidikan harus bersifat kontekstual. Pendidikan yang berkembang harus dapat merespon kebutuhan yang dari konteks tertentu. Di sini letak dari keunggulan teori pendidikan yang bergantung pada bentuk relevansi teori dan kelayakan akan konteks tertentu. Intinya tidak ada teori yang dapat dikatakan statis yang mengakibatkan konflik atau ketidakpuasan akan suatu pendidikan. Seperti yang dikatakan John Dewey dalam pendidikan yang paradoks di mana pendidikan yang sehat harus dipengaruhi oleh konflik dan kebangkitan gerakan sosial, di sisi lain pendidikan bukan merupakan sarang konflik. Dengan demikian pendidikan harus dapat menganalisa setiap pekerjaan serta perkembangan pendidikan yang cerdas yakni memastikan penyebab konflik, menganalisa, kemudian menyusun rencana operasional yang tepat. Di sini Antone mengabungkan pendidikan yang bersifat historis dari pendidikan kekinian yang disebut Christian Education dan Religious Education.
Lanjut Antone bahwa akar pendidikan Kristiani berasal dari kebudayaan Ibrani atau Yahudi. Di mana kebudayaan manusia pada saat melihat pendidikan untuk mempertahankan hidup, baik di dalam keluarga maupun di masyarakat lebih luas. Pendidikan di sini mencakup pelatihan dasar kemampuan untuk bertahan hidup, penanaman nilai-nilai komunitas, dan pewarisan nilai-nilai budaya. Seperti dalam peride utama Alkitab yakni periode sebelum pembuangan pre-exilic, periode sesudah pembuangan post-exilic dari masa Perjanjian Lama dan periode Perjanjian Baru. Selanjutnya pendidikan Kristiani juga dapat dilihat dari cara Yesus dan cara murid-murid. Akan tetapi cara dari keduanya dibedakan karena ada pergeseran nyata dalam isi dan perilaku pendidikan. Di mana Yesus berpusat pada Kerajaan Allah dalam masyarakat-Nya sendiri. Misalnya Yesus mengajar dan khotbah, menyembuhkan orang sakit, mengusiran setan sebagai pelayanan kebutuhan manusia.
Hal ini berbeda pada periode Patriastik maupun yang terjadi pada abad pertengahan. Pelembagaan agama Kristen sebagai agama Negara menimbulkan masalah baru pendidikan Kristiani. Seperti baptisan masal yang menimbulkan masalah tersendiri karena tidak melalui tahap pendidikan yang sesuai denga ritusnya.
Dalam perkembangannya ungkapan pendidikan agama terdapat beberapa istilah yang digunakan. Mary Boys menggunakan pendidikan Kristiani pada masa pencerahan. Jonathan Edwards dari kaum evangelikal dan revivalisme pada tahun 1800an maupun Karl Barth dan Rudolf Bultmann menekankan pertobatan perasaan dan pengalaman akan keberadaan Kristus. Selain itu dari Gilbert Albert Coe, Walter Rauschenbach dan John Dewey menyebutnya dengan pendidikan agama. Hal ini dipengaruhi konsep teologi liberal dan pendidikan progresif. Penekanan diarahkan pada pengalaman manusia, pertumbuhan iman dan rekonstruksi tatanan sosial. Intinya harapan yang metafisik tidak dapat diterima. Selain itu bentuk lainnya pendidikan Katolik yang disebut juga katekese yang menekankan kepedulian iman kepada masyarakat. Selanjutnya bentuk lainnya yakni pendidikan agama ekumenis yang mengupayakan kesatuan gereja. Bentuk terakhir adalah pendidikan agama multikultural. Di sini gereja sampai pemahaman bahwa gereja dengan budaya minoritas mengakui identitasnya sebagai kaum minoritas di tengah kaum mayoritas. Melalui pendidikan multikultural ini, diharapkan gereja mampu membuka diri.
Dengan demikian jelas dapat dipahami bahwa perbedaan antara pendidikan Kristiani dan Pendidikan Agama yakni pendidikan Kristiani menekankan untuk mempromosikan kembali teologi neo-ortodoks yang merujuk pada Alkitab sebagai landasan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan waktu. Intinya pendidikan Kristiani mengedepankan nilai-nilai Kristiani dalam pelaksanaan pendidikan. Seperti pandangan Mary Elizabeth Moore yang melihat kedua penamaan di atas sama yakni menekankan kebutuhan perubahan yang signifikan serta kebutuhan yang berkesinambungan dan penentuan warisan. Gabriel Moran berpendapat bahwa pendidikan tersebut agama atau Kristiani adalah sesuatu yang harus dipelajari masyarakat Kristen guna mengetahui cara memelihara hubungan yang baik antara orang-orang yang berbeda kepercayaan.
Dalam penggunaan nama pendidikan Agama guna melihat permasalah dalam konteks itu sendiri yakni adanya pluraitas agama. Gabriel Moran, Norman H. Thompson, dan John Westerhoff yang mengusulkan bahwa pendidikan agama harus menghadapi persoalan objektivitas, muatan, metodologi, dan konteks. Salah satu solusi untuk permasalahan tersebut adalah WCC dan CCA melakukan program dialog antar iman dan antar agama. Hal ini sesuai dengan permasalahan kemajemukan yakni pluralisme agama di Asia.
Dengan demikian Antone mengusulkan pendekatan Teologis dan Edukatif terhadap kemajemukan yakni membuat semacam tipologi guna membedakan sikap dari agama terhadap kemajemukan tersebut. Antara lain ekslusivisme, inklusivisme dan pluralisme. Dalam analisa John Hick mengatakan bahwa ekslusivisme berarti menjadikan arogansi agama; Inklusivisme berarti memberi ruang kepada agama lain akan keberagaman; dan pluralisme berarti mengadakan kesetaraan dan keterbukaan pada setiap agama.
Selanjutnya Antone kembali menjelaskan hubungan Alkitab dengan pluralisme. Di mana pengalaman dan pelayanan Yesus dan lingkungan masyarakat Yahudi menjadi poros dalam bagian ini. Antone mengutip pandangan Niebuhr bahwa ada kecenderungan orang Kristen untuk mengklaim kebenaran yang mutlak dari penafsiran Alkitab yang normatif. Niebuhr mengatakan hal ini sebagai suatu kejahatan dalam hidup. Selain itu pengutipan ayat Alkitab yang berlebih telah mengabaikan rangkaian utuh dari narasi Alkitab.
Oleh karena itu, Antone mengusulkan cara memahami Alkitab tentang pluralisme yakni belajar dari sikap Yesus dalam berhubungan dengan orang lain khususnya menghadirkan syalom. Seperti dalam Lukas 8:21 Yesus mengatakan ‘Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku.’ Di sini identitas tidak dibatas pada suatu komunitas tapi kepada semua orang yang percaya, tanpa membedakan laki-laki dan perempuan, suku dan kondisi ekonomi.
Refleksi
Menurut hemat penulis, tulisan Antone dan Kadarmanto yang mengambil objek pembahasan pada konteks Asia khusus Indonesia yang memiliki kemajemukan. Hal ini mengajarkan bagaimana memahami pendidikan agama dan Kristiani itu secara mendasar. Dengan kata lain permasalah penginjilan dan pelaksanaan pendidikan tidak serta merta pada satu aspek tapi muli-aspek. Dengan demikian pendidikan agama dan Kristiani seharusnya dikembalikan pada pemahaman akan suatu kebenaran Alkitab yang bertanggungjawab dan menghargai pemahaman, gagasan yang lain.
Sementara itu pendidikan agama dan pendidikan Kristiani adalah sesuatu yang harus dilaksanakan secara bersama-sama. Di mana pendidikan agama yang melihat konteks kemajemukan dalam masyarakat dan dapat menyelesaikan isu-isu kemanusiaan. Di sisi pendidikan Kristiani juga dapat mengembangkan proses pertumbuhan suatu komunitas iman dalam kemajemukan.

Definisi mengenai masa remaja



MASA REMAJA

Kata remaja berasal dari bahasa latin yaitu adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolescence mempunyai arti yang cukup luas: mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. ( Piaget ). Dengan mengatakan poin- poin sebagai berikut secara psikologis masa remaja :
1. usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa
2. usia dimana anak tidak merasa dibawah tingkat orang –orang yang lebih tua melainkan berada pada tingkatan yang sama, sekurang –kurangnya masalah hak.
3. integrasi dalam masyarakat dewasa mempunyai banyalah aspek afektif
4. kurang lebih berhubungan dengan masa puber
5. transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa.

Usia remaja menurut buku Harlock ini awal remaja sekitar usia 13 tahun sampai dengan 16 tahun dan akhir masa remaja sekitar usia 17 tahun sampai 18 tahun.

Ciri – ciri masa remaja
1. masa remaja sebagai periode yang penting
perkembangan fisik dan psikis yang sama cepat memerlukan remaja untuk menyesuaikan diri didalam sikap dan mental remaja tersebut. Hal ini dikarenakan adanya perubahan yang dari anak - anak keremaja.
2. masa remaja adalah sebagai periode peralihan
adanya peralihan dari masa kanak-kanak keremaja hal ini berarti bahwa bekas –bekas pada masa kanak-kanak akan sangat mempengaruhi remaja nantinya.
3. masa remaja sebagai periode perubahan
ada beberapa perubahan dan bersifat universal: meningginya emosi, yang intensitasnya tergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis, perubahan tubuh, perubahan minat dan peran, perubahan nilai-nilai yang diakibatkan oleh perubahan minat dan peran dan perubahan pada adanya keinginan kebebasan dan mereka takut bertanggung jawab terhadap sikap-sikapnya.
4. masa remaja sebagai usia bermasalah
mengapa mengalami kesulitan : satu karena sebagian masalah semasa kanak-kanak diselesaikan oleh ortu dan guru –guru, kedua karena remaja merasa mandiri mereka ingin mengatasi masalah sendiri. Hal ini yang menyebabkan remaja sulit mengatasi masla-masalahnya.
5. masa remaja sebagai masa mencari identitas
mereka lambat laun akan mendambakan identitas diri mereka sendiri yang merasa berbeda dengan teman- temannya, dengan menggunakan simbol-simbol yang menurut mereka pantas dibanggakan kapada semua teman-teman sebanyanya.
6. masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
adanya stereotipe yang menganggap remaja sebagai masa yang tidak rapi, tidak dapat dipercaya dan merusak. Hal ini menimbulkan ketakutan pada remaja jika bersama orang dewasa. Karena hal ini sudah melekat pada sebagian besar orang dewasa pada umumnya.
7. masa remaja sebagai masa yang tidak realistik
remaja mempunyai pandangan bahwa dunia sebagai sesuai keinginannya dan tidak sebagai mana kenyataanya, oleh karena hal tersebut remaja meninggi emosinya apabila gagal dan disakiti hatinya. Remaja lambat laun akan mengerti secara rasional dan realistik sesuai bertambahnya pengalamannya.

TUGAS PERKEMBANGAN MASA REMAJA
1. menerima keadaan fisik yang baru dan diperluakan perbaikan pada konsep ini sehingga remaja mampu berpenampilan diri dan mencapai apa yang dicita-citakan.
2. menerima peran seks pada remaja
3. mempelajari hubungan dengan para remaja baik dengan sejenis ataupun lain jenis.
4. mendambakan kemandirian secara emosianal dan perilaku.
5. pendidikan dan sekolah tinggi menekankan pentingnya intelektual.
6. tugas untuk mengembangkan perilaku sosial yang bertanggung jawab.
7. kecenderungan kawin muda menyebabkan persiapan perkawinan menjadi sangat penting dalam kehidupan remaja.

PERUBAHAN TUBUH PADA MASA REMAJA

1. tinggi : rata – rata anak perempuan memiliki tinggi yang matang pada usia 17 th dan 18 th, laki-laki setahun kemudian.
2. berat : mengikuti pertumbuhan tinggi badan.
3. proporsi tubuh : badan melebar dan memanjang sehingga anggota badan tidak terlalu panjang.
4. organs seks : ukuran yang matang pada akhir remaja, tetapi fungsinya matang beberapa tahun kemudian.
5. ciri –ciri seks sekunder mulai nampak muncul.

KEADAAN EMOSI PADA MASA REMAJA

Emosi pada remaja meninggi dikarenakan oleh perubahan fisik dan kelenjar. Pola emosi remaja sama dengan pola emosi pada kanak – kanak yang terutama pada adanya ketidakadilan sehingga menyebabkan marah pada remaja. Pada remaja dalam meluapakan emosi dengan cara menggerutu, mengkritik dengan suara keras dan berdiam. Kematangan emosi pada remaja tercapai apabila remaja sudah mampu menontrol emosinya sesuai dengan tempatnya dan menerima informasi sebelum meluapkan apa yang menjadi ganjalannya. Dalam memperoleh kematangan emosional remaja harus dapat berbagi dengan orang lain mengenai masalah-masalahnya.

PERUBAHAN SOSIAL

Penyesuaian sosial pada remaja merupakan hal yang penting dalam kehidupannya untuk mencapai pola sosialisasi dewasa. Hal yang terpenting dan tersulit adalah : pengaruh teman sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, nilai – nilai baru dalam seleksi persahabatan, dalam kepemimpinan, dalam dukungan dan penolakan sosial.

BEBERAPA MINAT PADA REMAJA

1. minat rekreasi : permainan dan olah raga.
2. minat sosial : pesta, minum-minuman keras, obat-obatan terlarang, percakapan, menolong orang lain, peristiwa dunia dan kritik dan pembaruan.
3. minat pribadi : minat pada penampilan diri, minat pada pakaian, minat pada prestasi, minat pada kemandirian dan minat pada uang.
4. minat pendidikan
5. minat pada pekerjaan.
6. minat pada agama.
7. minat pada simbol dan status.

PERUBAHAN MORAL PADA REMAJA

1. perubahan moral individu makin lama makin menjadi abstrak dan kurang kongkret.
2. keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan yang dominan.
3. penilaian moral semakin kognitif, mendorong remaja untuk lebih berani mengambil keputusan pelbagai hal mengenai moral.
4. penilaian moral menjadi kurang egosentris.
5. penilaian moral lebih bersifat sebagai hal yang mahal dan merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan psikologis.

MINAT SEKS PADA REMAJA

Alasan – alasan yang umum untuk berkencan selama masa remaja ;
1. merupakan hiburan bagi individu.
2. sosialisasi.
3. status dalam teman sebaya.
4. masa pacaran.
5. pemilihan teman hidup.



PERUBAHAN KEPRIBADIAN MASA REMAJA

Kepribadian pada masa remaja cenderung untuk memeperbaikinya, remaja berpandangan bahwa kepribadian yang baik akan memudahkan mereka untuk berhubungan sosial dan bisa lebih diterima.

Kondisi – kondisi yang mempengaruhi konsep diri : usia kematangan pada remaja, penampilan diri, kepatutan seks, nama dan julukan, hubungan keluarga, teman-teman sebaya, kreativitas dan cita-cita.

BAHAYA- BAHAYA YANG UMUM PADA MASA REMAJA

1. tidak bertanggung jawab, dalam menyepelekan tugas –tugas sekolah dengan lebih memilih bersenang – senang dam mendapat dukungan sosial.
2. sikap yang terlalu PD dan agresif.
3. perasaan tidak aman, sehingga remaja cenderung patuh terhadap kelompoknya.
4. merasa ingin pulang jika berada pada lingkungan yang tidak dikenal.
5. perasaan menyerah.
6. terlalu banyak berkhayal.
7. mundur ketingkatan perilaku sebelumnya untuk menarik perhatian.
8. mengguanakan ego defense : rasionalisasi, proyeksi, berkhayal dan memindahkan.

BAB II
MASA DEWASA DINI

Masa dewasa dini yakni apabila individu menginjak usia 18 th sampai batasan 40 th.

CIRI- CIRI MASA DEWASA DINI

1. masa pengaturan
masa ini berarti bahwa remaja harus membiasakan diri dengan berbagai macam tuntutan menjdi orang dewasa, tentunya berebda dengan masa remaja sebelumnya. Hal ini terkait dengan pekerjaaan, pola hidup.
2. sebagai usia reproduktif
oramgtua merupakan peran yang penting dalam kehidupan mereka.
3. sebagai masa bermasalah
awal masa dewasa merupakan masa yang sulit bagi kebanyakan orang karena harus menyesuaikan diri terhadap tugas-tugas perkembangan masa dewasa. Aspek –aspek yang berkaitan adalah keluarga, karir.
4. masa ketegangan emosional.
5. masa keterasingan sosial
dapat dijelaskan bahwa setelah remaja menginjak dewasa cenderung untuk sedikit demi sedikit meniggalkan kelompoknya nmasing-masing. hal initerjdi karena kesibukan pada pekerjaan dan keluarga mereka, sehingga aktivitas dalam pershabatan tergantikan sebagian oleh persaingan dalam karir dipekerjaan.
6. masa komitmen
masa dewasa dini sebagai periode komitmen terhadap diri sendiri tentang cita-cita dan ambisi untuk karir. Sehingga masa ini merupakan komitmen dalam hal pola tanggung jawab minimal tethadap diri sendiri.
7. masa ketergantungan.
8. masa perubahan nilai
9. masa penyesuaian diri dengan gaya hidup baru
10. masa kreativ

TUGAS PERKEMBANGAN PADA MASA DEWASA DINI

Adapun tugas-tugasya adalah sbb: mendapatkan suatu pekerjaan, memilih seorang teman hidup, belajar bersama dengan pasangannya, membentuk suatu keluarga, membesarkan anak-anak, mengelola rumah tangga, menerima tangguang jawab sebagai warga negara dan menjadi anggota kelompok sosial yang diras cocok. Bantuan untuk menguasai tugas-tugas perkembangan :
1. efisiensi fisik : 20 sd 25 th merupakan usia yang sangat produktif.
2. kemampuan motorik : pada usia 20 – 30 th yang puncak kekuatannya, tetapi respon terbaik pada usia 20-25 th.
3. kemampuan mental.
4. motivasi yang besar untuk dapat mencapai usaha yang maksimal dalam melaksanakan tugas masa dewasa dini.
5. model peran ideal bagi kehidupannya.

PERUBAHAN MINAT

Hal-hal yang mempengaruhi perubahan minat sbb :
1. perubahan dalam kondisi kesehatan
2. perubahan dalam status ekonomi
3. perubahan dalam pola kehidupan.
4. perubahan dalam nilai.
5. perubahan peran seks.
6. perubahan dari status belum menikah ke menikah.
7. menjadi orang tua
8. perubahan kesenangan.
9. perubahan dalam tekanan budaya dan lingkungan.

Beberapa macam minat pribadi pada masa dewasa dini : penampilan, pakaian dan perhiasan, simbol kedewasaan, simbol status, uang dan agama.

Peran pakaian pada masa dewasa dini :
1. meningkatkan penampilan.
2. indikasi status sosial.
3. individualitas.
4. prestasi sosio ekonomi.
5. meningkatkan daya tarik.

Rekreasi
Kegiatan yang berupaya untuk memperoleh kesenangan batin dan kepuasan jiwa setelah mengalami kejenuhan terhadap rutinitas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi rekreasi pada masa deawasa
1. kesehatan individu
2. waktunya.
3. status perkawinan.
4. status sosio ekonomi.
5. jenis kelamin
6. penerimaan sosial terhadap individu tersebut.

Beberapa macam bentuk rekreasi : berbincang- bincang, berdansa, dan berolah raga.
Hiburan – hiburan yang populer dikalangan dewasa dini adalah : membaca, mendengarkan musik, film, radio, televisi.

MINAT SOSIAL

Pada masa ini orang dewasa dini sering merasa kesepian terhadap dunia sekiatarnya karena teman – teman meraka sudah berpencar memiliki keluarga dan yang lainnya. Begitu pula pada orang- orang yang sudah menikah mereka cenderung rindu pada teman-teman sebyanya dulu pada remaja. Dalam beberapa hal ada semacam perubahan dan pergeseran yang sering dan banyak terjadi pada kehidupannya adalah : perubahan dalam peran serta sosial, perubahan dalam persahabatan dan perubahan dalam kelompok sosial.

Beberapa faktor yang mempengaruhi partisipasi sosial pada masa dewasa dini
1. mobilitas sosial
2. status sosio ekonomi
3. lamanya tinggal dalam masyarakat tersebut.
4. kelas sosial.
5. lingkungan.
6. jenis kelamin.
7. umur kematangan seksual.
8. urutan kelahiran


KONSEP PERAN SEKS DEWASA

1. konsep tradisional : menekankan pola perilaku tertentu dan tidak memasukkan minat dan kemampuan, yang muncul adalah maskulin.
a. pria : diluar rumah pria seabagai posisi berwenang dan dirumah sebagai pencari nafkah, pembuat keputusan, penasehat dan tokoh yang mendisiplinkan anak-anaknya.
b. wanita : konsep kepuasan wanita lewat pengabdian terhadap orang lain yakni suaminya.

2. konsep egalitarian : persamaan antara derajat laki-laki dan wanita
a. pria : dirumah ataupun diluar wanita dan laki – laki sedreajat dan saling bekerjasama.
b. wanita : terjadi kesamaan dengan pria bahwa tidak ada diskriminasi dalam mengaktualisasikan dirinya.



RINTANGAN YANG MENGHAMBAT PENGUASAAN TUGAS PERKEMBANGAN PADA MASA DEWASA DINI

1. dasar yang kurang memadai pada waktu sebelum dewasa
2. hambatan fisik
3. latihan yang tidak runtut
4. perlindungan yang berlebihan
5. pengaruh teman sebaya yang berkepanjangan.
6. aspirasi yang tidak realistik.
Usia remaja menurut  Harlock adalah masa awal remaja sekitar usia 13 tahun
     sampai dengan 16 tahun dan akhir masa remaja sekitar usia 17 tahun sampai 18 tahun.
A.  Pengertian
Pendidikan Agama Kristen (PAK) untuk Pemuda bermaksud sebagai suatu usaha terencana untuk mempertemukan pemuda dengan Kristus melalui Injil, sehingga mereka mampu melihat diri sendiri sebagai pribadi yang sementara berkembang dalam segala hal, sekaligus memiliki tanggung jawab untuk medewasakan iman dan kasih, dan mampu merespon serta mengung-kapkannya dalam relasi dengan Allah dan sesama, maupun dalam keterlibatannya di dalam gereja.
[1]

B. Tujuan
PAK Pemuda menolong para pemuda dan pemudi menyadari pengungkapan diri Allah dan mencari kasih dalam Yesus Kristus dan meresponnya dalam iman dan kasih, dan sampai akhirnya maka mereka boleh mengenal siapa mereka dan apa makna situasi kemanusiaan mereka yang bertumbuh sebagai putra-putri Allah yang berakar dalam paguyuban Kristen, hidup dalam Roh Allah dalam segenap hubungan-hubungan, memenuhi tugas kemuridan bersama dalam dunia, serta tinggal dalam pengharapan Kristen.
[2]

C. Sasaran
1. Tingkat Usia: 18-25 tahun (Pemuda)
2. Tugas perkembangan dan ciri-ciri yang hendaknya sudah dicapai:
2.a. Perkembangan Jasmani/Fisik [3]

Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisik dan psikologis pada waktu-waktu yang dapat diramalkan. Dan puncak efesiensi fisik biasanya dicapai pada usia pertengahan dua puluhan. Pada masa ini dapat dikatakan sebagai usia reproduktif.

2.b. Perkembangan Kognitif [4]
Pada tahap Formal Operasional
  • Pada tahap ini perkembangan intelektual pemuda mencapai titik akhir puncaknya. Semua hal yang berikutnya sebenarnya merupakan perluasan, penerapan, dan penghalusan dari pola pemikiran ini.
  • Pemuda sudah mampu memasuki dunia logis yang berlaku secara mutlak dan universal yaitu dunia idealitas paling tinggi.
  • Dan pemuda dalam menyelesaikan suatu masalah maka ia langsung memasuki masalahnya. Ia sudah mampu mencoba beberapa penyelesaian secara konkrit dan hanya melihat akibat langsung usaha-usahanya untuk menyelesaikan masalah itu.
  • Pemuda juga sudah mulai mempelajari bahwa sebuah konstruksi teoritis atau sebuah visi utopis hanya memiliki nilai dari relasi bagaimana hal itu tersusun dalam kenyataan.
  • Pemuda juga sudah mampu menyadari keterbatasan baik yang ada pada dirinya maupun yang berhubungan dengan realitas di lingkungan hidupnya.
  • Pemuda dalam menyelesaikan masalahnya juga memikirkannya terlebih dahulu secara teoretis. Ia menganalisis masalahnya dengan penyelesaian berbagai hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisanya ini, ia lalu membuat suatu strategi penyelesaian secara verbal. Yang kemudian mengajukan pendapat-pendapat tertentu yang sering disebut sebagai proporsi, kemudian mencari sintesa dan relasi antara proporsi yang berbeda-beda tadi.
2.c. Perkembangan Psikososial


Pada tahap Keintiman lawan Isolasi [5]
  • Dalam tahap ini pemuda siap dan ingin untuk menyatukan identitasnya dengan orang-orang lain. Mereka mendambakan hubungan-hubungan intim-akrab, dan persaudaraan, serta siap mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen-komitmen ini meskipun mereka harus berkorban.
  • Para pemuda dalam tahap ini untuk pertama kalinya mereka mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan genitalitas seksual yang sesungguhnya dalam hubungan timbal balik dengan mitra yang dicintainya.[6]
2.d. Perkembangan Pengambilan Keputusan Moral[7]


  • Pada tahap ini tindakan benar cenderung dimengerti dari segi-segi hak individual yang umum dan dari segi patokan-patokan yang sudah dikaji dengan kritis dan disetujui oleh masyarakat.
  • Ada kesadaran yang jelas bahwa nilai-nilai dan opini pribadi itu relatif dan oleh karenanya perlu adanya peraturan prosedural untuk mencapai kesepakatan bersama.
2.e. Perkembangan Iman
Tahap Individual-reflektif [8]
  • Tahap ini ditandai dengan lahirnya refleksi kritis atas seluruh pendapat, keyakinan dan nilai (religius) lama. Pemuda mulai menyadari bahwa seluruh sistem keyakinan, pandangan hidup, nilai dan komitmennya harus ditinjau kembali, diperiksa secara kritis, diganti, atau disusun ulang agar dapat menjadi sebuah sistem pemikiran dan arti relevan yang lebih eksplisit.
  • Pemuda mulai dapat berefleksi dari kesanggupannya sendiri sebagai subyek yang aktif, kritis, dan kreatif. Dengan kata lain otoritas yang awalnya berada di luar dirinya, maka dalam tahap ini justru berada di dalam dirinya sendiri.
D. Lingkungan dan Suasana Pembelajaran
1. Lingkungan
Randolph Crump Miller[9]
 menyatakan lingkungan pembelajaran PAK adalah:
  • rumah
  • sekolah umum
  • gereja
  • masyarakat
2. Pendidik:[10]
  • orang tua
  • guru
  • jemaat
  • masyarakat
3. Suasana Pembelajaran:
  • Mengingat perkembangan kognitif pemuda menunjukkan adanya kemungkinan mereka membuat suatu analisa kritis dan suatu sintesa, juga secara perkembangan kepercayaan pemuda berani menguji kembali semua keyakinan yang sudah diwariskan, maka dapat disebutkan di sini bahwa suasana belajar yang baik adalah suasana belajar yang kondusif. Artinya suatu suasana yang interaktif. Suasana di mana siswa belajar aktif tanpa didikte oleh guru dan memberikan kesempatan buat siswa untuk berpikir dan menganalisa sendiri.[11]
Generasi muda adalah generasi yang begitu penting dipandang dalam berbagai elemen yang ada. Karena pada waktu usia mudalah orang pada masa yang cukup produktif untuk melakukan banyak hal. Masa muda adalah masa dimana titik balik dalam meniti karir ataupun masa depan yang diimpikan. Banyak orang muda tidak menyadari akan hal itu, menjadi tugas dan tanggungjawabnya sebagai anak-anak muda yang hidup didalam Kristus, untuk menjadi garam bagi generasi muda sekarang ini.
"Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda."

            Mazmur 127:4

Dari semua orang yang disebutkan di dalam Alkitab, tidak ada orang yang lebih sering muncul dari Daud. Sejarah kehidupannya dicatat di dalam empat kitab Perjanjian Lama dan disepanjang Alkitab namanya dicatat, bahkan lebih sering daripada Yesus sendiri (Gene A. Getz, David: God´s Man in Faith and Failure, Ventura, Calif.: Regal, 1978, h. 4). Kadang-kadang kita lupa gaya kehidupan Daud yang terus bergerak, perjuangannya dengan Saul, persahabatannya dengan Yonathan, pertumbuhan imannya, dan mungkin kesulitan-kesulitannya dalam pernikahannya (2Samuel 6:16,20-23), yang semuanya terjadi sebelum dia berusia 30 tahun (2Samuel 5:4). Banyak Mazmur yang pasti telah ditulis ketika Daud masih menginjak masa muda dewasa.
Tidak seperti para penulis modern, Alkitab tidak menunjukkan masa muda dewasa sebagai suatu periode usia yang spesifik, akan tetapi, mungkin kebanyakan orang di dalam Alkitab memberi tanda pada sejarah ketika mereka masih muda seperti Daud. Yesus masih muda ketika Dia mengerjakan pelayanan-Nya dan mengubah sejarah. Banyak dari para pemimpin gereja mula-mula yang muncul pada saat mereka masih muda. Mereka semua berjuang, akan tetapi banyak yang dipakai Tuhan dengan cara yang dahsyat. Meskipun masa muda dewasa tidak ditunjukkan secara spesifik di dalam Alkitab, tetapi pada kelompok usia ini banyak mendapat perhatian dan permasalahan yang timbul pada usia tersebut sering disebutkan.
Lewis Joseph Sherrill, The Struggle of the Soul (New York: The MacMillan Company, 1963)hal 131-132
David Ng, Youth in the Community of Disciples (Valley Forge, PA: Judson Press, 1984)hal 21-22.